Permulaan Penyebaran Agama Islam di Jawa






Permulaan Penyebaran Agama Islam di Jawa

I-1   Legenda-legenda Jawa Timur tentang orang-orang suci dalam agama Islam pada abad ke-15: Raden Rahmat dari Ngampel Denta dan murid-muridnya.
Agama Islam tersebar di Asia Tenggara dan di Kepulauan Indonesia sejak abad ke-12 atau ke-13. Sekarang di daerah-daerah yang telah berabad-abad memeluknya, nama orang-orang yang dianggap berjasa dalam menyebarkan agama itu disebut dengan hormat dan khidmat. Masuk Islamnya berbagai suku bangsa di Kepulauan Indonesia ini tidak berlangsung dengan jalan yang sama. Begitulah anggapan umum; legenda mengenai orang suci dan cerita mengenai para penyebar agama Islam dan tanah asal usul mereka bermacam-macam sekali. Belum lama berselang Dr. Drewes minta perhatian terhadap soal-soal yang bertalian dengan sejarah agama Islam di Indonesia, dan hal itu masih menunggu tanggapan.[1]
Suatu kenyataan yang sudah pasti ialah, bahwa di Sumatera Utara -di Aceh yang sekarang ini - para penguasa di beberapa kota pelabuhan penting sejak paruh kedua abad ke-13 sudah menganut Islam. Pada zaman ini hegemoni politik di Jawa Timur masih di tangan raja-raja beragama Syiwa dan Budha di Kediri dan di Singasari, di daerah pedalaman. Ibu kota Majapahit, yang pada abad ke-14 sangat penting itu, pada waktu itu belum berdiri. Sebaliknya, besar sekali kemungkinan bahwa pada abad ke-13 di Jawa sudah ada orang-orang Islam yang menetap. Sebab, jalan perdagangan di laut, yang menyusuri pantai timur Sumatera melalui Laut Jawa ke Indonesia bagian timur, sudah ditempuh sejak zaman dahulu. Para pelaut itu, baik yang beragama Islam maupun yang tidak, dalam perjalanan mereka singgah di banyak ternpat. Pusat-pusat permukiman di pantai utara Jawa ternyata sangat cocok untuk itu.
Salah seorang yang paling terkenal dan tertua di antara para wali di Jawa - dicatat dalam semua hikayat orang saleh - ialah Raden Rahmat dari Ngampel Denta.[2] la diberi nama sesuai dengan nama kampung dalam Kota Surabaya tempat ia dimakamkan; mungkin ia pernah tinggal di sana. Menurut cerita Jawa, ia berasal dari Cempa; letak Cempa itu akan dibicarakan dalam bagian berikut.
Tokoh terpenting dalam cerita Jawa tentang Cempa ialah Putri Cempa. Ada dua kelompok cerita Cempa. Kelompok pertama meliputi cerita lisan, yang dihubung-hubungkan dengan makam Islam, yang sekarang masih dapat ditunjukkan di suatu daerah yang dahulu merupakan ibu kota Majapahit. Makam itu bertarikh Jawa 1370 (1448 M); mungkin sekali itulah makam Putri Cempa yang menjadi permaisuti raja terakhir (yang legendaris) Majapahit, yaitu Brawijaya. Menurut suatu cerita Jawa, Serat Kandha (diterbitkan oleh. Brandes), konon ia sudah kawin dengan Putri Cempa itu waktu ia masih menjadi putra mahkota. Nama putri itu sebagai ratu agaknya Darawati atau Andarawati. Babad Meinsma memberikan uraian panjang lebar tentang putri itu. Sebagai "emas kawin" konon ia telah membawa barang yang sangat berharga itu dari Cempa, yang kelak dijadikan barang-barang perhiasan kebesaran Keraton Mataram, atau pusaka yaitu gong yang diberi nama Kiai Sekar Delima; kereta kuda tertutup yang diberi nama Kiai Bale Lumur, dan pedati sapi yang diberi nama Kiai Jebat Betri. Barang-barang berharga ini diperoleh Keraton Mataram sebagai barang-barang rampasan perang, ketika Demak direbut (Meinsma, Babad, hal. 24).[3]
Kelompok kedua cerita tradisional Jawa yang mengisahkan Cempa berhubungan dengan orang-orang suci yang telah menyebarkan agama Islam di Surabaya dan Gresik. Konon mereka berasal dari Cempa. Putri Cempa tersebut meninggalkan saudara perempuan di tanah airnya, yang sudah kawin dengan seorang Arab. Ipar putri ini dalam satu cerita tradisional (Hikayat Hasanuddin dari Banten) hanya disebut sebagai Orang Suci dari Tulen, keturunan Syekh Parnen.[4] Menurut cerita babad lain ia diberi nama Raja Pandita; dulu namanya Sayid Kaji Mustakim. Dalam Babad Meinsma ia disebut Makdum Brahim Asmara, imam dari Asmara (?); dalam Sadjarah Dalem - silsilah raja-raja Mataram dan nenek moyang mereka - Maulana Ibrahim Asmara lahir di Tanah Arab, putra Syekh Jumadil Kubra.
Orang Arab itu, yang identitasnya ternyata belum jelas, konon mendapat dua putra dari istrinya, Putri Cempa itu. Yang tua namanya Raja Pandita (dalam Hikayat Hasanuddin) atau Raden Santri (dalam Babad Meimma); yang muda bernama Pangeran Ngampel Denta atau Raden Rahmat. Dalam Sadjarah Dalern nama-nama mereka ialah Sayid Ngali Murtala dan Sayid Ngali Rahmat. Menurut teks-teks lama, Raden 'Rahmat itu adalah adik; dan menurut teks-teks tua, yaitu babad, ia adalah kakak. Di samping kedua orang bersaudara ini, muncul pula saudara sepupu yang lebih tua dalam cerita Jawa. Ia seorang sarjana, Abu Hurerah namanya. Menurut cerita babad (di situ ia diberi nama Raden Burereh), konon ia adalah salah seorang putra raja di Cempa.
Bertiga mereka dalam perjalanan dari Cempa ke Jawa untuk mengunjungi bibi mereka, Putri Cempa itu. Tetapi kunjungan itu bukan kunjungan singkat. Menurut Hikayat Hasanuddin, yang tua, Raja Pandita, diangkat menjadi imam di masjid yang terletak di tanah milik Tandes (seorang tua di Gresik). Di sana ia menjadi tokoh penting. Adiknya, Raden Rahmat, diangkat oleh pecat tandha di Terung[5], yang bernama Arya Sena, sebagai imam di Surabaya. la pun menjadi sangat terhormat di lingkungannya.
Dari cerita-cerita Jawa itu dapat diambil kesimpulan bahwa Gresik dan Surabaya dianggap sebagai pusat-pusat tertua agama Islam di Jawa Timur. Tradisi tersebut sesuai dengan kenyataan bahwa di Gresik terdapat banyak makam Islam yang tua sekali. Pertama-tama terdapat makam seorang yang bernama Fatimah binti Maimun, yang meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H. (1082 M.); dan kedua, makam Malik Ibrahim, yang meninggal pada tanggal 12 Rabiulawal 822 H. (1419 M.). Tulisan-tulisan pada makam dalam bahasa (dan tulisan) Arab baru dapat dibaca dan diartikan oleh sarjana-sarjana Barat pada abad ke-20. Cerita tradisi lisan Jawa telah menghubung-hubungkan kedua orang itu. Padahal, kedua orang tersebut masa hidupnya berselisih beberapa abad. Wanitanya disebut Putri Leran atau Putri Dewi Swara.
Mungkin dapat diakui juga bahwa berdasarkan tuanya makam wanita yang disebut Putri Leran itu, Gresik lebih tua dari Surabaya sebagai pusat agama Islam. Ini sesuai juga dengan adat Jawa, yang telah menempatkan si kakek, Raja Pandita, di Gresik, dan adiknya, Raden Rahmat, di Surabaya.
Menurut tambo Jawa, Raden Rahmat yang berasal. dari Campa itu mempunyai banyak keturunan dan murid, yang berabad-abad lamanya telah menguasai perkembangan agama Islam di Jawa Timur (lihat bagian-bagian mengenai sejarah Surabaya, Giri, dan Gresik).

I-2. Cempa, Campa, tanah asal Raden Rahmat, legenda dan sejarah
Mengenai letak Cempa dalam cerita-cerita Jawa yang menyangkut tempat asal para penyebar agama Islam pertama di Jawa Timur, telah diajukan dua pendapat. Dr. Rouffaer (Rouffaer, "Sumatera") berdasarkan dugaan-dugaan telah mengidentihkasikan Cempa atau Campa ini dengan Jeumpa di Aceh, di perbatasan antara Samalangan (Simelungan) dan Pasangan. Dr. Cowan memperkuat hipotesa ini dalam resensinya (Cowan "Kern") mengenai karya R.A. Kern (Kern, "Verbreiding").
Pendapat yang mengidentifikasikan Cempa dengan Jeumpa di Aceh. kelihatannya diperkuat juga oleh rute perjalanan (lihat Valentijn, Dud en Nieuw, jil. IV, hal.124-125) yang telah ditempuh oleh orang-orang suci Islam lain, seperti Syekh Ibnu Maulana, dari Tanah Arab ke Jawa, yaitu: Aceh, Pasai, Campa, Johor, Cirebon. Apabila Cempa (= Jeumpa) ditukar tempatnya dengan Pasai, maka rute perjalanannya lebih masuk akal.
Dalam sebuah petikan Kroniek van Banjarmasin tentang sejarah Jawa (Ras, Hikajat Bandjar, hal. 46; juga sudah disebut dalam TBG, jil. 24,1875, hal. 280-297) terdapat nama Pasai di tempat yang seharusnya menurut harapan orang adalah Cempa (bandingkan Djajadiningrat, Banten, hal. 255). Ini menimbulkan dugaan bahwa Cempa (Jeumpa) dan Kota Pasai yang jauh lebih terkenal itu saling berhubungan.
Keberatan pokok terhadap identifikasi Cempa dengan Jeumpa ialah bahwa Kota Jeumpa tidak berarti. Mungkin tempat itu pada abad ke-15 dan ke-16 lebih penting daripada sekarang sebagai pangkalan dalam perjalanan laut menyusur pantai timur Sumatera. Menurut ilmu bahasa, ada juga hubungan antara Jeumpa dan Cempa. Tetapi mungkin Cempa, daerah asal yang dimaksud dalam tambo-tambo Islam di Jawa, harus dicari di tempat yang lebih jauh lagi, di pantai timur Hindia-Belakang.
Pendapat kedua tentang letak Cempa ini diperkuat oleh sastra sejarah Melayu dan Jawa. Cerita Sajarah Melayu (bab 21) memuat riwayat singkat Kerajaan Campa. Di situ secara khusus diberitakan bahwa penduduknya tidak makan daging sapi dan tidak menyembelih sapi. (Ini mungkin juga menunjukkan bahwa mereka itu beragama Hindu atau Budha). Semula daerah itu wilayah taklukan Batara (Raja) Majapahit.
Menurut Sajarah Melayu, raja Campa yang terakhir adalah Pau Kubah, yang kawin dengan putri dari Lakiu. Raja Kerajaan Kuci meminang salah seorang putri mereka, tetapi pinangannya ditolak. Ini mengakibatkan pecah perang antara Campa dan Kuci. Dengan jalan pengkhianatan akhirnya para pejuang dari Kuci dapat merebut ibu kota Campa, yang bernama Bal; mereka berhasil memberi uang suap kepada bendahara raja, untuk membuka pintu gerbang. Pau Kubah gugur dalam perang ini. Dua orang putranya lolos. Yang seorang, Pau Liang, melarikan diri ke Aceh; di situ ia menjadi penegak dinasti baru.[6] Yang lain, Indra Berma, minta suaka kepada Sultan Mansur dari Malaka. Indra Berma dan istrinya, Keni Mernam, memeluk agama Islam di Malaka. Di keraton kesultanan itu mereka menjadi orang ternama.
Berita Sajarah Melayu ini boleh dianggap dapat dipercaya, karena teksnya sudah disusun menjelang perempat kedua abad ke-16, tidak terlalu lama sesudah runtuhnya dinasti raja Campa yang lama. Dari sumber-sumber lain telah diketahui bahwa Campa pada tahun 1471 direbut oleh orang-orang Annam (Vietnam). Tarikh ini bertepatan dengan tahun-tahun pemerintahan Sultan Mansur di Malaka (1459 - 1477) yang telah memberi suaka kepada pangeran dari Campa yang melarikan diri itu.
Sajarah Melayu tidak menghubungkan Cempa dengan Jawa Timur. Namun, sejarah Cempa disebut juga dalam Hikayat Hasanuddin versi Banten. Dalam hikayat ini dikisahkan bahwa Kerajaan Campa ditaklukkan oleh raja dari Koci, waktu Raden Rahmat bermukim di Jawa. Jadi, Raden Rahmat bersama saudaranya tentunya sebelum tahun 1471 sudah berangkat dari Cempa ke Jawa Timur.
Hikayat Hasanuddin (Edel, Hasanuddin, hal. 162 dan 164) menimbulkan dugaan bahwa waktu menetapnya Raden Rahmat di Surabaya itu harus diletakkan dalam perempat ketiga abad ke-15. Ini akan sesuai benar dengan tarikh yang tercantum pada makam Putri Campa, 1448 Masehi.
Dari sejarah Campa masih ada tahun yang lebih awal, yang diketahui dari sumber-sumber lain, yaitu tahun 1446. Pada waktu itu seorang raja Annam, Le Nhantong, telah menduduki ibu kota Campa dan menawan rajanya.
Apabila peristiwa-peristiwa sejarah dan tahun-tahun kejadian di atas kita tinjau dan apabila kita ingin memberi nilai sejarah kepada cerita-cerita Jawa Timur mengenai Cempa, tempat asal beberapa .penyebar agama Islam mula-mula, kita dapat menyusun hipotesa berikut ini. Seorang raja Majapahit, atau seorang anggota keluarga raja, menjelang pertengahan abad ke-15 telah membawa gadis Islam dari keluarga baik-baik yang berasal dari Cempa ke istananya. (Sejak dahulu kala Majapahit selalu mempunyai hubungan dengan Cempa). Wanita Islam itu meninggal pada tahun 1448 dan dimakamkan secara Islam (= Putri Cempa).
Beberapa tahun sebelumnya, dua orang keluarga putri itu, kakak beradik, meninggalkan Cempa dan melawat ke Jawa. Mereka ini juga beragama Islam; ayah mereka adalah orang Barat yang kawin di Cempa dengan wanita dari keluarga bangsawan. Salah satu alasan kedua kakak-beradik itu pergi ke Jawa ialah karena ancaman orang-orang Annam untuk menyerang Cempa. (Pires, petualang Portugis itu menetapkan kedatangan orang-orang Islam pertama ke Jawa sekitar tahun 1443; pada tahun 1446 ibu kota Cempa diduduki oleh bangsa Annam). Dua orang kakak-beradik dengan darah campuran ini [Barat-Asia, Arab (?) dan Indocina (?)] telah berhasil menjadi pemuka kelompok-kelompok Islam yang masih baru di Gresik dan Surabaya. Dalam kedudukan itu mereka diakui oleh wakil-wakil maharaja Majapahit (pecat tanda di Terung). Tetapi keturunan mereka tidak mendapat kekuasaan duniawi di Gresik dan Surabaya.[7]
Demikianlah hipotesa tentang permulaan penyebaran agama Islam di Jawa Timur. Sejarah Gresik dan Surabaya akan diuraikan dalam bagian-bagian berikut ini.

I-3. Perdagangan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat dalam Kerajaan Majapahit pada abad ke-15
Berbagai penelitian Schrieke, Van Leur, dan Metlink-Roelofsz yang telah dipublikasikan sejak tahun 1925 telah mengungkapkan keadaan waktu Islam berkembang di Kepulauan Indonesia pada abad ke-15. Masuk akal juga bahwa pedagang dan pelaut Islam telah menggantikan kedudukan orang-orang bukan Islam, yang telah mendahului mereka sebagai pedagang dan yang menjadi saingan mereka dalam menguasai jalan laut yang berabad-abad umurnya, yaitu jalan yang menyusur pantai Sumatera dan Jawa menuju ke kepulauan rempah-rempah di Maluku. Banyak berita dalam tulisan berbahasa Cina dan Arab mengenai pelayaran perdagangan yang sudah lama menarik perhatian orang itu.[8]
Bandar-bandar sepanjang pantai utara Jawa itu pertama-tama merupakan pangkalan; di situ pelaut-pelaut tersebut membeli bekal (tegasnya: beras) dan air untuk perjalanan yang berminggu-minggu atau berbulan-bulan dengan menggunakan perahu-perahu layar. Melimpahnya persediaan beras, hasil tanah aluvium dari pesisir, dan kesuburannya membuat bandar-bandar di Jawa tersebut menjadi sangat menarik.
Kemakmuran bandar-bandar itu bergantung pada persediaan beras yang dapat meteka tawarkan. Kaum bangsawan setempat dan pegawai-pegawai keraton yang berwenang mengurusi penyerahan beras para petani di tanah pedalaman merupakan kelompok "bapak" yang harus dihubungi para pedagang Seberang untuk menyelesaikan urusan.
Kedua, sehubungan dengan penyediaan bahan makanan, bandar-bandar Jawa ternyata telah menjadi tempat penimbunan perdagangan rempah-rempah. Di tempat-tempat tersebut barang dagangan sangat laku dikumpulkan untuk ditawarkan kepada pedagang-pedagang seberang lautan apabila mereka datang dengan perahu layar bertepatan dengan angin musim yang sesuai. Perdagangan tersebut dilakukan oieh pedagang-pedagang yang menetap di tempat-tempat itu. Dalam banyak hal pedagang-pedagang itu - karena hubungan lama - mempunyai hubungan baik dengan pelaut-pelaut tersebut (atau dengan majikan mereka di Seberang); atau mereka sendiri keturunan orang tanah seberang. Mereka membentuk golongan pedagang yang berada, dan sering mengadakan kawin campur. Hubungan perkawinan keluarga pedagang dengan kaum bangsawan daerah, pegawai-pegawai raja (sering kali abdi raja, para kawula), atau bahkan dengan anggota keluarga raja, kadang-kadang terjadi sebelum zaman Islam, tetapi atas dasar kedudukan yang tidak sepadan. Di semua kelompok sosial dalam masyarakat di masa pra-Islam kesadaran kebangsawanan terlalu kuat, sehingga suatu perkawinan dengan pihak yang termasuk golongan lain (bukan bangsawan) tidak dapat dianggap bernilai sepenuhnya. Di istana keluarga kaum terpandang, asal keturunan para wanita merupakan soal yang teramat penting.[9]
Ketiga, bandar-bandar taut sepanjang pantai utara Jawa juga menjadi tempat kedudukan pengusaha perkapalan dan para pemilik kapal (bahkan juga pembuat kapal), yang menyediakan kapal-kapal laut untuk perdagangan dengan daerah seberang lautan. Ini semua memerlukan modal yang sangat besar. Mungkin sekali sering diperlukan kerja sama antara pedagang-pedagang yang bermodal kuat dari golongan masyarakat dagang guna menyelenggarakan usaha sebesar itu. Keikut-sertaan kaum bangsawan dan pegawai-pegawai raja dari kalangan pemerintah setempat dirasa perlu, karena nakoda kapal akan mendapat limpahan kekuasaan dari kerja sama tersebut, sehingga dapat melakukan kekerasan di rantau jika dianggap perlu.[10] Di bandar-bandar dengan pengusaha kuat, bila perlu nakoda dapat minta dibuatkan kapal-kapal (atas biaya masyarakat setempat) dan juga diperlengkapi dengan logistik perang untuk melawan musuh atau saingan di Seberang (pelayaran perompak).
Pimpinan kapal-kapal yang dipersiapkan di bandar-bandar Jawa terdiri dari anggota-anggota kelas pedagang. Tidak jarang nakoda kapal sendiri sepenuhnya merupakan pemilik kapal beserta muatannya; setidaknya menguasai sebagian besar "sahamnya". Kadang-kadang yang memegang pimpinan adalah seorang bangsawan. Awak kapalnya diambit dari abdi-abdi (yang tidak terikat pada) tuan-tuan besar itu. Orang-orang luar, pedagang-pedagang kecil dan orang-orang asing, kadang-kadang mendapat izin juga untuk ikut berlayar dengan syarat tertentu. Di antara para penumpang kapal itu sering terdapat orang dari berbagai tempat asal, dengan bahasa yang berbeda-beda yang sebagian hidupnya mengembara dari bandar satu ke bandar yang lain, menyusuri pantai-pantai Asia Tenggara, Kepulauan Indonesia, dan India.
Keadaan serupa ini sudah berlangsung dalam perdagangan dan pelayaran Asia Tenggara sejak zaman dahulu. Sedikit sekali alasan untuk menduga bahwa agama Islam dengan cepat mengadakan perubahan-perubahan besar.

I-4. Golongan menengah Islam
Dari permulaan agama Islam sudah berpengaruh pada golongan menengah, kaum pedagang, dan buruh di bandar-bandar (hal ini terjadi hampir di mana-mana pun agama Islam berkembang, lebih-lebih di Asia Tenggara dan Nusantara). Seperti lazimnya, pelaut-pelaut menyebarkan agama Islam di antara teman-teman sederajatnya. Rasa persaudaraan dalam agama antarbangsa itu, yang pada asasnya tidak mengakui adanya perbedaan keturunan, golongan, dan suku antara para pemeluknya, ternyata mempunyai daya tarik pada para pedagang dan pelaut, yang berbeda-beda tempat asalnya dan mempunyai berbagai-bagai adat istiadat dan cara hidup.[11] Dalam pergaulan hidup masyarakat golongan menengah yang berdagang ini, agama Islam yang memajukan sifat sama rata itu menciptakan tata tertib dan keamanan seraya menonjolkan kerukunan kaum Islam. Hukum pernikahan Islam, yang pada dasarnya tidak mengenal halangan berdasarkan perbedaan keturunan, golongan, dan suku, merupakan pembaruan besar dalam pergaulan hidup yang terpecah-pecah.[12]
Gambaran Jawa mengenai para penyebar agama Islam pertama di Jawa Timur memberikan beberapa petunjuk bahwa mereka termasuk golongan menengah kaum pedagang itu. Sunan Giri pada masa mudanya adalah anak angkat Nyai Gede Pinatih, wanita pedagang kaya di Gresik. Sunan Giri sendiri berlayar untuk urusan dagang ke Kalimantan Selatan (Babad Gresik, hat. 23). Ki Gede Pandan Arang, yang kemudian disebut Sunan Bayat, bekerja pada wanita penjual beras. Sunan Kalijaga berpendapat bahwa menyamar sebagai penjual alang-alang itu tidak merendahkan derajatnya (Rinkes, "Heiligen", jil. IV, hat. 440-441).[13]
Di mana pun di kota-kota bandar bila telah terbentuk masyarakat Islam, masjid niscaya segera dibangun; itu merupakan suatu keharusan. Masjid menduduki tempat penting dalam kehidupan masyarakat; ia merupakan pusat pertemuan orang-orang beriman dan menjadi lambang kesatuan jemaat.
Ada alasan untuk menduga bahwa dalam Kerajaan Majapahit di sana-sini terdapat pasar dan pusat jaringan perdagangan di pedalaman, lebih-lebih di sekitar tempat penyeberangan sungai yang banyak jumlahnya itu. Di sana tinggal kelompok-kelompok orang yang hidupnya terutama dari perdagangan dan lalu lintas. Dalam buku Pigeaud, Java, hal itu mendapat perhatian (jil. V, hal. 44, di bawah: "trade" "tradespeople", "traveling"; dan jil. IV, hal. 416-432: catatan atas terjemahan prasasti Biluluk tahun 1366 hingga 1395). Dapat diduga bahwa sudah sejak abad ke-14 banyak terlibat orang-orang bukan Jawa dalam perdagangan dan lalu lintas pedalaman. Mereka itu orang-orang Indocina, yang mempunyai adat kebiasaan sendiri, juga di bidang keagamaan (Pigeaud, Java, jil. IV; hal. 409 dst. : catatan pada terjemahan Ferry Charter). Menurut tradisi Jawa, seorang adipati, bawahan raja di Terung (= tempat tambang penting di Sungai Brantas) dan yang memiliki darah Cina, telah melantik imam pertama masjid tua di Ngampel Denta. Itu suatu contoh cerita yang menjelaskan adanya hubungan antara Islam golongan menengah, perdagangan serta lalu lintas, dan orang-orang Cina.

I-5   Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Bandar-Bandar pantai utara Pulau Jawa
Suma Oriental karangan petualang Portugis, Tome Pires, melukiskan keadaan di Jawa sekitar tahun 1515.[14] Menurut dia, perpindahan kekuasaan politik ke tangan orang-orang Islam terjadi dengan dua cara:
Pertama: Bangsawan-bangsawan Jawa yang "kafir" dengan sukarela memeluk agama baru itu; di tempat-tempat mereka memegang kekuasaan (dan tetap berkuasa), pedagang-pedagang Islam mencapai martabat tinggi. Demikian juga para cendekiawan agama Islam yang tinggal di rumah para pedagang.
Kedua: Orang-orang asing yang beragama Islam, dari bermacam-macam bangsa, bertempat tinggal di kampung (factorij) tersendiri di Bandar-Bandar, membuat rumah mereka menjadi kubu pertahanan; dari tempat-tempat itulah mereka mengadakan serangan-serangan terhadap perkampungan orang-orang "kafir"; akhirnya mereka merebut seluruh pemerintahan bandar.
Gambaran peristiwa menurut Pires itu agaknya mudah diterima. Mungkin sekali Pires berpendapat, dalam hal yang kedua itu para penguasa setempat yang asli dan bukan Islam itu gugur dalam pertempuran atau melarikan diri. Bagaimanapun jelaslah bahwa-is memberikan peranan penting kepada kalangan pedagang yang beragama Islam.
Bolehlah diperkirakan bahwa proses pengislaman yang pertama itulah yang tertua, dan bahwa Bandar-Bandar kuno di pantai utara Jawa Timur dengan cara demikian itu menjadi Islam. Kota Tuban adalah contoh perkembangan demikian itu. Pengislaman dengan jalan kekerasan itu konon terjadi di Bandar-Bandar di pantai utara Jawa Tengah, yakni Demak dan Jepara.
Suatu catatan Pires yang penting ialah yang berikut ini. Menurut dugaannya, pedagang-pedagang Islam yang semula dari golongan menengah dan kadang-kadang bangsa asing, setelah mencapai kekuasaan dan kehormatan, mengubah tingkah laku dan cara hidup mereka. Dari pedagang mereka menjadi cavaleiros, kesatria golongan bangsawan, kemudian mendapat hak untuk memiliki tanah. Berdasarkan pernyataan Pires, dapat diduga bahwa memeluk agama Islam belum berarti tercapainya perubahan besar dalam susunan politik kota-kota di pantai utara Jawa. Bahkan juga tidak di tempat-tempat keturunan penguasa yang bukan Islam, yang dengan jalan kekerasan dipaksa menyerahkan kedudukan mereka kepada "orang kaya baru", yang menurut asal usulnya adalah orang-orang asing dan pelaut.

1-6 Kehidupan agama Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timui pada abad ke-15 dan ke-16, legenda dan sejarah
Kesusastraan Jawa abad ke-17 dan ke-18 mengenal banyak cerita tradisional mengenai para wali, yaitu orang-orang saleh yang diduga telah menyebarkan agama Islam di Jawa. Dikisahkan kehidupan, mukjizat, dan keyakinan mereka di bidang mistik Islam dan teologi. Cerita-cerita itu biasanya berpegang teguh pada wali yang sembilan angka yang dipandang "keramat", yang mengingatkan kita akan kesempurnaan yang mencakup segala-galanya. Tetapi nama-nama para wali itu disebut berbeda-beda.[15]
Wali-wali di Jawa kabarnya berpusat di masjid keramat di Demak, masjid yang mereka dirikan bersama. Di situlah mereka agaknya mengadakan pertemuan untuk bertukar pikiran tentang mistik. Naskah-naskah yang mengungkapkan pertukaran pikiran ini, yang dinamakan Musawaratan, sangat disukai oleh para santri: Banyak naskah telah disusun yang memuat teks-teks Musawaratan.[16]
Legenda-legenda keagamaan Jawa itu sedikit nilainya bagi penulisan sejarah. Urutan kronologis kejadian-kejadiannya diabaikan sama sekali. Hanya yang mengenai wali-wali yang paling terkemuka ada kepastian sejarah yang cukup kuat, oleh karena makam-makam mereka masih tetap merupakan tempat yang sangat dihormati; juga karena mereka sendiri atau keturunan mereka memegang peranan penting dalam sejarah politik Jawa pada abad ke-16 dan ke-17. Mereka berhasil mendapatkan kekuasaan duniawi di tempat kediaman mereka: mereka telah menjadi "pemuka-pemuka agama'°. Contoh-contoh perkembangan seperti ini ialah: Giri-Gresik, Kudus, dan Cirebon. Sejarah tempat-tempat tersebut akan dibicarakan dalam bagian lain buku ini. Orang Suci dari Kadilangu, dekat Demak, yaitu Sunan Kalijaga, dan keturunannya memang tidak menjadi raja, namun pengaruh mereka di bidang kerohanian di Jawa Tengah bagian selatan ternyata besar.
Tome Pires sedikit sekah menulis tentang orang-orang suci Islam. Diberitakan olehnya, pada permulaan abad ke-16, sesudah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Pulau Jawa (lihat bagian-bagian yang terdahulu), datanglah "maulana-maulana" dari tanah seberang. Mereka tinggal di dekat masjid-masjid yang sementara itu telah dibangun. Juga cerita-cerita sejarah Jawa dalam bentuk Babad Tanah Djawi (antara lain terbitan Djaja Subrata, I, hal. 131), mengisahkan kedatangan para "maulana" bahkan ada yang dari Mekkah. Berita-berita pendek itu dan legenda-legenda panjang tentang orang-orang saleh tersebut berkisar sekitar tokoh-tokoh yang sama. Namun, perlu dinyatakan bahwa, menurut Pires, para rohaniwan dari negeri asing itu baru menetap di Jawa sesudah didirikannya kelompok-kelompok Islam, berkat rasa kerukunan beragama dan besarnya semangat dakwah para pelopor yaitu para pelaut dan pedagang di bandar-bandar. Para guru agama yang datang kemudian telah memperkuat keimanan kelompok-kelompok itu.
A. Johns (Johns, "Muslim Mystics") telah mencoba menghubungkan jatuhnya Kalifat Bagdad pada tahun 1258, yang mengakibatkan hancurnya kesatuan politik Islam untuk selama-lamanya, dengan propaganda pan-Islam (menurut perkiraan) yang dilakukan oleh tarekat mistik dalam abad-abad berikutnya.[17] la menduga bahwa "the conversion of Indonesia to Islam was very largely the work of the tariga's" (hal. 41). Memang suatu kenyataan bahwa mistik, bahkan mistik yang heterodoks dan panteistis, telah mendapat kedudukan penting dalam kehidupan keagamaan Islam Jawa sejak abad ke-15 dan ke-16. Ini terbukti dari kesusastraan Jawa. Tetapi hanya sedikit alasan untuk menduga bahwa ikatan-ikatan persaudaraan mistik Islam yang terkenal pada masa itu sudah mulai aktif di Jawa pada abad ke-15. Dalam Hikayat Hasanuddin tarekat-tarekat itu di sana-sini memang disebutkan (Edel, Hasanuddin, hal.156,177, dan 178), tetapi mungkin merupakan catatan yang ditambahkan kemudian. Dalam kumpulan kuno cerita sejarah Jawa lainnya tidak terdapat berita tentang tarekat. Menurut Drewes (Drewes, "Mysticism", hal.300) tarekat Shattariya dari Medinah mulai dikenal di Jawa pada pertengahan abad ke-17.
Boleh diduga bahwa para guru agama yang pada abad ke-15 dan ke-16 melawat ke Jawa, termasuk kelompok mahasiswa dan sarjana yang menjelajahi dunia Islam sambil menghimpun ilmu, serta memberikan ajaran dan sementara itu tidak melupakan kepentingan duniawi. Meluasnya dunia Islam sebagai akibat pengislaman Kepulauan Indonesia itu tidak luput dari perhatian kalangan mereka. Di istana kerajaan-kerajaan baru Islam sepanjang pantai kepulauan itu, mereka sering disambut dengan meriah sebagai penasihat kerohanian. Karena bergerak di tengah-tengah berbagai bangsa, mereka lebih mengenal dunia; karenanya mereka merupakan penasihat yang sangat berguna. Bahkan mereka menjadi pembantu bagi tuan rumah mereka dalam mengurusi harta dan memimpin usaha.
Apabila mereka cukup lama tinggal di suatu tempat, sering terjalin hubungan perkawinan antara orang asing yang dihormati serta berguna itu dengan putri atau saudara perempuan penguasa setempat. .Hukum perkawinan Islam memberikan kemungkinan untuk itu. Dalam legenda dan kisah, hubungan perkawinan demikian itu berkali-kalj diungkapkan.

I-7   Masjid Demak, legenda dan sejarah
Menurut cerita tradisional sejarah Jawa, tercatat dalam cerita dan buku-buku cerita, bangunan masjid itu didirikan oleh para wali bersama-sama dalam waktu satu malam. Atap tengahnya ditopang, seperti lazimnya, oleh empat tiang kayu raksasa. Salah satu di antaranya tidak terbuat dari satu batang kayu utuh; ia disusun dari beberapa balok, yang diikat menjadi satu. Dikisahkan dalam legenda itu bahwa tiang tersebut adalah sumbangan Sunan Kalijaga. Rupanya tiang itu disusun dari potongan-potongan balok yang tersisa dari pekerjaan wali-wali lainnya; pada malam pembuatan bangunan itu ia datang terlambat, oleh karenanya tidak dapat menghasilkan sebuah pekerjaan yang utuh.
Dalam lagenda-lagenda tentang Masjid Demak, Sunan Kalijaga menduduki tempat yang penting. Dialah yang berjasa membetulkan kiblat masjid (mengarah ke Mekkah). Sunan Kalijaga jugalah yang memperoleh baju wasiat "Antakusuma", yang jatuh dari langit di masjid itu di tengah-tengah para wali yang sedang bermusyawarah. Cerita mengenai peristiwa itu berbeda-beda. Baju yang juga disebut Kiai Gundil (Gundul) itu dalam cerita tradisional dianggap sebagai salah satu "pusaka" raja-raja Jawa. Panembahan Senapati, raja Mataram pertama yang merdeka, menurut cerita, pada tahun 1590 telah dapat mengalahkan pangeran Madiun karena mengenakan baju tersebut yang membuatnya kebal. Baju itu diterimanya dari pandita di Kadilangu, ahli waris Sunan Kalijaga. Pada tahun 1703 baju tersebut masih disebut sebagai salah satu pusaka keraton dalam suatu surat berbahasa Belanda. Pada waktu itu baju tersebut diserahkan kepada sunan baru, Mangkurat III, di Kartasura. (Dagh-Register, 12 November 1703; disimpan di Arsip Nasional, Jakarta, belum terbit).
Legenda ketiga tentang Masjid Demak, di samping cerita tentang pembangunan Masjid Demak dan tentang baju tersebut, ada hubungannya dengan api surga. Legenda itu mempunyai bermacam-macam versi; dalam semua versinya, Ki Gede Sesela, tokoh yang menangkap kilat, berada di ladang. la membawa kilat itu ke Masjid Demak atau kepada Sultan Demak. Sebuah relief, yang dibuat di atas pintu gerbang utara bangunan yang sekarang, di sisi kubur, mengingatkan kita akan peristiwa itu. Keterangan itu berdasarkan cerita lama. Pintu gerbang yang bernama Pintu Bledeg 'Kilat' dahulu adalah pintu gerbang utama (Wardi, Kurnpulan, hal. 30). Kilat yang telah terkurung untuk beberapa waktu, konon, kemudian dapat meloloskan diri atau dibebaskan. Sesela adalah suatu tempat di daerah sebelah timur Demak, dengan gejala-gejala vulkanis (Junghuhn, Java, II, hal. 272-280). Ki Gede Sesela yang legendaris itu sangat dimuliakan sebagai moyang keturunan keluarga raja Mataram. Hingga abad ke-20 ini, dua kali setahun Susuhunan Surakarta menyuruh mengambil api dari lampu di atas makam Ki Gede Sesela, untuk menyalakan lampu di muka ruang sucinya (kobongan, patanen) sendiri, di bagian keraton yang paling dalam. Kalau api Sesela ini tiba di Surakarta dengan arak-arakan yang khidmat, banyak pula pangeran memanfaatkan kesempatan itu untuk menyalakan lampu mereka (lihat Dr. B. Schrieke dalam Catatan Tambahannya pada Bosch, "Dinaja").
Mukjizat penangkapan kilat di Demak itu oleh cerita tradisi dihubungkan dengan suatu keputusan politik penting. Penghormatan Ki Gede Sesela merupakan tradisi dinasti bagi wangsa Mataram. Ada kemungkinan untuk menghubungkan atau setidak-tidaknya membandingkan cerita api surga ini dengan pandangan Hindu -Jawa dari zaman sebelum Islam, mengenai "asas Kekuasaan Syiwa yang berkilauan", (Schrieke) dan "Lingga Syiwa yang memancarkan sinar" (Bosch).
Hingga abad ke-19 masjid suci di Demak menjadi pusat bagi umat Muslim kuno di Jawa Tengah. Di kalangan itu bahkan ada anggapan bahwa mengunjungi Kota Demak dan makam orang-orang suci di sana dapat disamakan dengan naik haji ke Mekkah. Nama Kudus, yang pada abad ke-16 diberikan kepada pusat keagamaan Islam yang lain, terletak tidak jauh dari Demak, berasal dari kata al-Quds, nama Arab untuk Yerusalem, juga suatu kota suci bagi orang Islam.
Pantas disebutkan ucapan, yang - menurut Babad Tanah Djawi (Meinsma, Babad, hal. 566) - dikemukakan oleh Susuhunan Paku Buwana I di Kartasura pada tahun 1708. Waktu itu beliau harus mengakui bahwa susuhunan yang mendahului dia, Mangkurat III yang dibuang ke Sri Lanka oleh Kompeni di Jakarta, telah membawa semua pusaka kerajaan. Paku Buwana I berkata bahwa Masjid Demak dan makam suci di Kadilangu sajalah yang merupakan pusaka mutlak dan tidak boleh hilang (ugere pusaka ing tanah Jawa). Pada tahun 1710 ia memberi perintah untuk memperbaiki bangunan itu dan mengganti atapnya dengan sirap baru (atap dari kayu). Menurut berita yang bersumber pada Kompeni, sesudah meninggalnya Kapten Tack di Kartasura, konon Sunan Mangkurat II pada tahun 1688 menawarkan untuk mengucapkan sumpah setianya kepada perjanjian-perjanjian yang telah diadakannya dengan Kompeni, di Masjid Demak (Graaf, Tack, hal. 142, cat. 4).
Lagenda-lagenda dan cerita-cerita tradisi yang telah disebutkan itu penting, karena telah mengungkapkan betapa pentingnya Masjid Demak di alam pikiran orang Jawa Islam pada abad ke-17, ke-18, dan ke-19. Kenyataan itu disebabkan oleh perkembangan sejarah. Masjid Demak telah menjadi pusat kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah. Menurut cerita tradisi yang tampaknya dapat dipercaya, kota yang kemudian dikenal sebagai ibu kota Demak itu didirikan pada paruh kedua abad ke-15. la cepat menjadi pusat perdagangan dan lalu lintas, dan menjadi pusat ibadat bagi golongan menengah Islam yang baru timbul. Politik ekspansi raja-raja Demak dalam masa kejayaannya telah jauh masuk ke Jawa Barat, Tengah, dan Timur. Hal itu selalu dibarengi dengan dakwah agama, sebab raja-raja dan pengikut mereka sendiri sedang berkobar-kobar semangat agamanya. Mungkin sekali raja-raja Demak menganggap Masjid Demak sebagai lambang kerajaan Islam mereka. Tidak begitu penting untuk diketahui apakah masjid tertua di Demak itu didirikan oleh raja pertama atau raja lain. Bahwa Masjid Demak pada abad-abad berikutnya menjadi penting sekali dalam dunia Jawa pada mulanya merupakan jasa dinasti Demak.[18]
Legenda-legenda itu - yang telah menghubungkan Masjid Demak dengan wali-wali di Jawa (pembangunannya; baju Antakusuma) -dapat dianggap dongeng yang termasuk kesusastraan agama untuk yang menghormati orang-orang suci, terutama Sunan Kalijaga, pendakwah dan pelindung Jawa Tengah sebelah selatan. Ketika kekuasaan raja-raja Demak jatuh, pada paruh kedua abad ke-16, kesetiaan yang berurat berakar terhadap orang-orang suci menjadikan Masjid Demak sebagai pusat kehidupan beragama di Jawa Tengah.
Cerita tradisi sejarah Banten (Edel, Hasanuddin) memuat kisah-kisah tentang imam-imam Masjid Demak pada perempat terakhir abad ke-15 dan dalam perempat pertama abad ke-16. Salah satu bagian buku ini akan membahasnya. Cerita tradisi ini membukrikan bahwa pada zaman itu masjid beserta para pengurusnya sangat terpandang.
Menurut S. Wardi, seorang peminat yang ternyata mengenal daerah itu dengan baik, di dekat pengimaman (mihrab) Masjid Demak terdapat sebuah tableau yang disemen dalam tembok: Tableau tersebut menunjukkan candra sangkala, yaitu tahun kejadian berwujud lukisan-lukisan kongkret, namanya mempunyai nilai angka. Menurut beliau, candra sangkala tersebut berwujud lukisan kepala, kaki, tubuh, dan ekor; keseluruhan itu menunjukkan tahun Jawa 1401 yang sesuai dengan tahun 1479 M. (Wardi, Kumpulan). Dengan cara seperti itu pada pintu gerbang utama Masjid Demak tertera pada kayu tahun 1428 Jawa yaitu tahun 1506 M. Tahun-tahun kejadian itu tampaknya dapat dipercaya; tahun-tahun itu bertepatan dengan waktu timbulnya dan berkembangnya kekuasaan Kerajaan Demak. Mungkin dapat diterima bahwa pada permulaan abad ke-16 telah didirikan suatu bangunan yang diperindah dan diperbesar, yang mengelilingi mihrab lama yang sudah berumur 30 tahun. Tahun 1506 cocok dengan tahun 1507, yaitu ketika raja Demak (Tranggana) hadir pada peresmian Masjid, setelah diperbarui (lihat Bab II-5 berikut ini).[19]

e-books a.mudjahid chudari




[1]       Lihat Drewes, "New Light".
[2]       Cerita tutur yang mungkin berasal dari ujung timur Pulau Jawa diberitakan dalam naskah CB 145 (1) A di Perpustakaan Universitas Leiden (Pigeaud, Literature, jil. II, him. 783), menyebutkan Empat Orang Suci agama Islam pada zaman kuno: Jumadil Kubra di Mantingan (lihat cat. 18), Nyampo di Suku Dhomas, Dada Petak di Gunung Bromo, dan Maolana Iskak dari Blambangan; kiranya mereka berempat itu "bersaudara". Maolana Iskak (menurut cerita-cerita lain, Serat Kandha; Pigeaud, Literature, jil. II, hlm. 362) adalah ayah Sunan Giri yang pertama. Cerita-cerita ini, dan tanda tahun pada makam Malik Ibrahim dekat Gresik (1419), menunjukkan adanya kemungkinan besar bahwa pada dasawarsa-dasawarsa pertama abad ke-15 sudah ada jemaah-jemaah Islam penting di kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai utara Jawa. Sunan Ngampel, meskipun sekarang yang paling terkenal, kiranya bukan satu-satunya kepala suatu perkampungan Islam.
[3]       Menurut sebuah buku cerita (Pigeaud, Literature, jil.11, hlm. 363), Sunan Bonang kemudian telah memindahkan makam maktuanya, Putri Darawati, dari Citra Wulan ke Karang Kemuning, Bonang. Tahun Jawa 1320 yang disebutkan dalam buku cerita itu (Pigeaud, Literature, jil. II, hlm. 362) untuk makam lama di Citra Wulan, agaknya keliru, mestinya tahun Jawa 1370. Dr. N. J. Krom (Krom, Kunst, jil. ke-2, him. 185) dalam pembicaraannya mengenai Candi Pari, sebuah candi di Jawa Timur yang bertanda tahun Jawa 1293= 1371 M. telah menunjukkan adanya hubungan-hubungan lama di bidang kebudayaan antara Jawa dan Campa. Sebenarnya Krom juga telah memberitakan makam Putri yang lama itu yang bertahun Jawa 1370.
[4]       Shaikh Paruen boleh jadi ucapan telur dari (Dhu'I) Karnain, yaitu Iskandar; dalam mitos menjadi moyang banyak keturunan raja-raja di Asia Tenggara. Asal usul berdasarkan mitos ini tentu telah mengangkat derajat keturunan para orang suci di Gresik dan Surabaya.
[5]       Pecat tandha, semula panca tandha, ialah suatu jabatan dalam tata negara Kerajaan Majapahit. Jabatan itu ada hubungannya dengan pekerjaan menguasai tempat-tempat jual-beli dan pusat-pusat hubungan lalu lintas, seperti tempat tambangan sungai (Pigeaud, Java, jil. V, hlm. 217 dan juga Bab XII-2 dan cat. 27 dan 212 berikut ini).
[6]       6 Bermukimnya seorang putra raja Campa di Aceh, yang disebutkan dalam Sajarah Melayu ini, dapat dihubungkan dengan berita-berita tentang Jeumpa (Cempa, Campa, dan Pasai); lihat sebelumnya.
[7]       Dalam Nagara Kertagama, nama-nama Campa dan Kamboja (Cambodia) disebutkan sampai dua kali secara berdampingan dalam sebuah urutan nama-nama (Pigeaud, Java, jil. V, hlm. 151). Kecuali kesaksian Nagara Kertagama dari abad XIV, masih ada pemberitaan-pemberitaan tentang Kamboja dalam buku cerita dari abad ke-17 (Pigeaud, Java, jil. III, h1m. 264) untuk menjelaskan, bahwa di Jawa nama-nama Campa (Cempa) dan Kamboja telah dikenal dengan baik secara berdampingan atau secara terpisah.
[8]       Salah satu dari tempat-tempat, yang tidak banyak jumlahnya, dalam kesusastraan Jawa kuno yang membicarakan perdagangan dan ekonomi zamannya sendiri ialah Nagara Kertagama, tembang 15-3 std 16-5; lihat Pigeaud-, Java, jil. IV, him. 500-504. Buku-buku undang-undang Jawa kuno dan Jawa Islam memang juga memuat paragraf-paragraf yang berhubungan dengan perdagangan dan ekonomi, tetapi buku-buku ini sampai sekarang boleh dikatakan belum pernah dipelajari.
[9]       Boleh jadi kisah Damarwulan ditulis di Surabaya pada permulaan abad ke-17. Cerita ini terjadi di Keraton Majapahit, yang pada waktu itu hampir satu abad sebelumnya telah runtuh. Pahlawannya termasuk keturunan para patih raja Majapahit; ayahnya, Patih Udara, sering tidak ada di rumah karena mengadakan pelayaran-pelayaran untuk urusan dagang. Para patih (diterjemahkan menurut pengertian Arab; menteri), ialah pegawai-pegawai kerajaan (semula mungkin abdi-abdi tidak bebas, kawula-kawula), yang mengurusi perdagangan dan mengatur pendapatan raja dari perdagangan itu. Yang aneh dalam kisah dari zaman Islam muda'ini ialah bahwa pahlawannya lebih dahulu telah kawin dengan saudara sepupunya sendiri (jadi kawin dalam tingkat derajatnya sendiri), tetapi kemudian, sebagai hadiah atas jasa kepahlawanannya, ia boleh kawin dengan Ratu Putri Majapahit. Kenaikan derajat yang layak dalam dongeng ini, bagi seseorang yang asal usulnya sederhana, memang sudah sesuai dengan jiwa kesusastraan Pesisir (Pigeaud, Literature, jil.1, him. 231 dst.). Ratu Putri itu tentu saja menjadi garwa padmi (istri utama) Damarwulan.
[10]     Sebagian kutipan itu mungkin menyangkut tindakan kekerasan yang dilakukannya di rantau orang oleh pelaut-pelaut bersenjata dan cuplikan tersebut diambil dari Nagara Kertagama, tembang 16-5, baris-baris akhir (lihat Pigeaud, Java; jil. N, hlm. 39).
[11]     Orang dapat pula bertanya-tanya mungkin kekuatan agama Budha selama meluasnya di Asia Tenggara berabad-abad sebelum zaman Islam itu pada mulanya juga terletak antara lain pada ajarannya tentang.persamaan sosial dalam kehidupan masyarakat.
[12]     Hubungan yang terdapat antara pembaruan dalam kehidupan bermasyarakat, munculnya kaum pedagang sebagai lapisan menengah dalam masyarakat, hilangnya rintangan-rintangan perkawinan yang berdasarkan perbedaan kelahiran, derajat, kebangsaan, dengan timbulnya aliran Islam baru dalam kesusastraan Jawa dari abad ke-16 dan ke-17, telah mendapat perhatian Pigeaud dalam Literature, jil.1, him. 212 dst. ("Pasisir Literature") dan him. 219 dst. ("Islamic Romances").
[13]     Dalam Pigeaud, Literature, jil. I, him. 150 dst. ("Sacred legends and genealogies of Muslim saints"), him. 278 dst. ("Crises") dicantumkan pemberitaan tentang kaitan, yang oleh cerita tutur Jawa diletakkan antara tampilnya para wali sebagai pembawa agama Islam dan munculnya kesenian serta kegiatan pertukangan, antara lain berupa pembuatan keris dan wayang kulit.
[14]     Berapa besar arti hasil karya Tome Pires untuk pengkajian masa pengislaman tanah Jawa telah dibicarakan dalam Graaf, "Tome Pires".
[15]     Cerita-cerita tutur Jawa tentang permulaan zaman Islam di Jawa telah dibicarakan dalam Pigeaud, Literature, jil.1, hlm. 76 dst. Berbagai legenda Jawa tentang orang-orang suci telah diuraikan dalam Rinkes, "Heiligen".
[16]     Arti Masjid Demak yang suci ini bagi kesadaran keagamaan orang-orang Jawa Islam pertama akan dibicarakan dalam paragraf berikut. Sejarah rumah ibadat akan menjadi bahan pembicaraan dalam Bab II buku karangan ini ("kelahiran dan kejayaan kerajaan Demak"). Soal "Musawaratan" Jawa telah dicantumkan dalam Pigeaud, Literature, jil.1, hlm. 83 dst.
[17]     Lihat: Hall, Historians; Johns, "Muslim Mystics". Drewes, "Mysticism" juga mengetengahkan mistik Jawa.
[18]     Dalam Pigeaud, Literature, jil. I, hlm. 76 dst. ("The beginning of the Islamic period ' in Java, Javanese mysticism") perhatian dipusatkan pada sebuah kelompok pusat-pusat keislaman yang lain (di samping masjid-masjid di kota-kota pelabuhan) pada abad ke-15 dan ke-16, yiitu tempat-tempat pendidikan agama (pondok, pesantren), yang merupakan kelompok-kelompok masyarakat yang masing-masing berdiri sendiri; kadang-kadang jauh di pegunungan. Tentang berbagai orang suci dari suku Jawa diberitakao oleh cerita tutur, bahwa mereka telah membuat bertobatnya beberapa ajar, yaitu guru-guru yang beragama dari zaman sebelum Islam, dengan memperlihatkan kepada mereka betapa unggulnya mukjizat-mukjizat Allah. Dalam Pigeaud, Java, hlm,. 484, dst. diungkapkan dugaan bahwa tempat-tempat pendidikan agama dari zaman sebelum Islam - asrama-asrama dan mandala-mandala - merupakan bentuk asli pondok-pondok dan pesantren-pesantren Islam. Para ajar, yang telah rela bertobat, masih tetap meneruskan tugasnya dalam memberi bimbingan keagamaan kepada para pengikutnya (dengan cara mereka sendiri dan sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka). Begitulah agaknya maksud yang ingin disampaikan oleh cerita tutur Jawa. Dapat diperkirakan, bahwa beberapa pondok Islam tua telah menggantikan pusat-pusat keagamaan dari zaman sebelum Islam. Di antara naskah-naskah Jawa yang dikumpulkan oleh Schoemann (sekarang di Perpustakaan Negara, Berlin) terdapat sebuah naskah Jawa kuno, yang ditulis pada daun nipah dengan apa yang disebut huruf Buda. Naskah ini termasuk kumpulan naskah Jawa lama, yang pada tahun 1851 dibeli di Desa Kedakan (di Kedu, di lereng Gunung Merbabu sebelah barat) dari keturunan seorang panembahan bernama Windu Sona, yang telah mengasingkan diri di tempat itu pada abad ke-15, waktu agama Islam mulai memegang pimpinan di Jawa Tengah (ini catatan-catatan Dr. Schoemann). Memang suatu kenyataan bahwa di antara naskah-naskah pada daun nipah dengan tulisan yang biasa disebut huruf Buda, ternyata juga ada yang dipengaruhi Islam. (Pigeaud, Literature, jil. III, Facsimiles, him. 2-23, dan lndeks him. 199, di bawah "Buda" III).
Dalam hubungan ini baiklah disebutkan legenda tentang ziarah Sunan Kalijaga ke Pamantingan. Menurut legenda ini, yang menjadi bagian Sunan Kalijaga dalam pembangunan masjid suci Demak ialah satu tiang, yang dibentuknya dari balok-balok potongan yang disusun dan diikat menjadi satu tiang. Disebutkah pula secara khusus (Meinsma, Babad, him. 48), bahwa Sunan Kalijaga terpaksa bekerja dengan tergesa-gesa waktu ikut melaksanakan pembangunan tersebut, karena datangnya di Demak sudah jauh lepas tengah hari, sementara orang-orang suci.lainnya sudah bersiap-slap menegakkan sumbangan mereka masing-masing untuk bangunan itu. Ia datang terlambat, karena ia telah pergi bertirakat ke Pamantingan (tirakat dateng ing Pamantingan), dan agaknya kurang pagi berangkat dari situ.
 Menurut cerita tutur itu, sebelum zaman Islam saja sudah ada tempat keramat yang terkenal, yakni Pamantingan atau Mantingan. Menurut pemberitaan, Pamantingan ialah salah satu dari delapan tempat kediaman yang terpenting bagi roh di Jawa (Lelembut, 'makhluk berbadan halus'), di samping merupakan tempat kediaman pertapa wanita dari Cemara Tunggal, yang kabarnya juga menjadi Ratu segara Kidul, 'Dewi Laut Selatan', Nyai Lara Kidul (Meinsma, Babad; hlm. l0 dan 21; lihat juga Pigeaud, Literature, jil. III. hlm. 301 dan 303 di bawah judul "Mantingan dan Mancingan"). Mantingan ini kiranya juga telah menjadi tempat kediaman Jumadil Kubra, orang suci Islam dari zaman dahulu (lihat cat. 2). Bolehlah diperkirakan, bahwa menurut legenda, Pamantingan yang telah dikunjungi Sunan Kalijaga ialah tempat dekat Jepara, yaitu tempat Ratu Kalinyamat yang tersohor itu kira-kira tiga perempat abad kemudian telah mendirikan makam (jirat) bagi suaminya yang telah terbunuh itu (lihat Bab VI-I dan cat. 113 berikut ini). Legenda yang mengisahkan bahwa orang suci seperti Sunan Kalijaga telah mengunjungi tempat seperti Pamantingan, kiranya berdasarkan kepercayaan lama akan adanya hubungan antara "kekafiran" Jawa kuno dan agama Islam.
(Mungkin Mantingan itu lebih dari satu. Dewi Manting ialah nama dewi padi di Bali; lihat Pigeaud, Literature, jil. III, hlm. 312. Dewi menurut kepercayaan lama itu telah mengejawantah, baik sebagai dewi tetumbuhan dan dewi kesuburan maupun sebagai Nyai Lara Kidul).
[19]     Sebuah karangan Dr. de Graaf (Graaf, "Mosque"), menyajikan uraian tentang bangunan masjid-masjid lama dengan atap bertingkat-tingkat, menurut pandangan dan penggambaran musafir Eropa dari abad ke-17. Persamaan yang terdapat dalam hal atap bertingkat, antara masjid-masjid lama di Sumatera dan Jawa di satu pihak, dan di pihak lain rumah-rumah ibadat Islam di Malabar, Gujarat, dan bahkan di Kashmir, sungguh mencolok. Kemungkinan tentang adanya hubungan antara masjid-masjid Indonesia yang beratap bertingkat dan "pagoda-pagoda" di daratan Asia Tenggara juga dapat dipertimbangkan, mengingat bahwa kerabat-kerabat orang Islam lama yang jadi pelopor berasal dari Asia Tenggara; juga mengingat hubungan-bubungan mereka dengan Cina.

0 Response to "Permulaan Penyebaran Agama Islam di Jawa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel