Lagu Patriot Karya KH. Wahab Hasbullah “Ya Lal Wathan”
Saturday, March 22, 2014
Add Comment
Mengapa Gus Dur mencintai Indonesia? Karena beliau manusia pesantren. Sedangkan keindonesiaan adalah salah satu unsur utama jati diri inti pesantren. George McTurnan Kahin (1918 – 2000, Cornell University, USA), menuliskan hasil penelitian sejarahnya dalam "Nationalism and Revolution in Indonesia" (Cornell University Southeast Asia Program, 1952), bahkan menandaskan kesimpulan bahwa "nasionalisme Indonesia berakar pada tradisi Islam Nusantara": pesantren!
Sejak
Terusan Suez dibuka (1859) membedah daratan beting antara Laut Tengah
dan Laut Merah, perhubungan Eropa – Asia dengan transportasi laut tidak
lagi harus memutari Tanjung Afrika, tapi potong kompas lewat Terusan
Suez, melintasi Teluk Aden, terus ke arah Timur hingga Nusantara. Sejak
saat itu, jalur pelayaran Eropa – Nusantara pergi-pulang kian ramai, dan
pelabuhan Jeddah menjadi salah satu persinggahan penting. Maka sejak
paruh akhir abad ke-19 terjadi lonjakan luar biasa perjalanan haji dari
antero Nusantara: Andalas, Jawa, Borneo, Celebes, Maluku, Sumbawa dan
pulau-pulau lainnya. Kebersamaan selama berbulan-bulan pelayaran dan
bertahun-tahun mukim di Hijaz diantara para "jamaah haji" yang merupakan
kader-kader unggulan kalangan pesantren itu menumbuhkan rasa senasib
dan persaudaraan yang terus menguat menggiligkan "tekad sebangsa", dan
dengan penuh gairah mereka tanamkan kepada masyarakat lahan khidmah
mereka sepulang dari Tanah Suci.
Pada 1912, Haji Oemar Said, seorang keturunan dari Kyai Kasan Besari (Pesantren Tegalsari, Ponorogo), mendirikan Syarikat Islam, organisasi politik pertama di Hindia Belanda yang menetapkan "Perjuangan Menuju Kemerdekaan Indonesia" sebagai haluannya. Pada waktu itu, Kyai Wahab Hasbullah yang masih mukim di Makkah pun mendirikan SI Cabang Makkah. Pada saatnya nanti, di Tanah Air, Kyai Wahab menginisiasi berdirinya Nahdlatul Wathan, kemudian –dibawah perlindungan gurunya, Kyai Hasyim Asy'ary– Nahdlatul Ulama (1926). "Soempah Pemoeda"yang dilahirkan oleh Kongres Pemoeda 1928, adalah kulminasi awal dari keseluruhan proses tersebut.
Pada 1912, Haji Oemar Said, seorang keturunan dari Kyai Kasan Besari (Pesantren Tegalsari, Ponorogo), mendirikan Syarikat Islam, organisasi politik pertama di Hindia Belanda yang menetapkan "Perjuangan Menuju Kemerdekaan Indonesia" sebagai haluannya. Pada waktu itu, Kyai Wahab Hasbullah yang masih mukim di Makkah pun mendirikan SI Cabang Makkah. Pada saatnya nanti, di Tanah Air, Kyai Wahab menginisiasi berdirinya Nahdlatul Wathan, kemudian –dibawah perlindungan gurunya, Kyai Hasyim Asy'ary– Nahdlatul Ulama (1926). "Soempah Pemoeda"yang dilahirkan oleh Kongres Pemoeda 1928, adalah kulminasi awal dari keseluruhan proses tersebut.
Kyai
Maimoen Zubair meriwayatkan bahwa ketika beliau mondok di Tambak Beras
dan belajar di sekolah "Syubbaanul Wathan" disana, setiap hari sebelum
masuk kelas murid-murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang
diciptakan oleh Kyai Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Nusron Wahid dan
Yaqut C. Qoumas sowan kepada Kyai Maimoen di Sarang, Rembang, untuk
memohon ijazah lagu itu, dan didapatlah syair yang tak pernah beliau
lupakan:
يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن
حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ
أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا
طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا
"Pusaka hati wahai tanah airku Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu Bangkitlah, hai bangsaku!
Indonesia negriku Engkau Panji Martabatku
Indonesia negriku Engkau Panji Martabatku
S'yapa datang mengancammu 'Kan binasa dibawah dulimu!"
Kyai
Fuad Affandi, pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung,
seorang satri dan khadam Kyai Ma'shoem Lasem, meriwayatkan dhawuh
gurunya (Mbah Ma'shoem),
"Pada
lambang NU itu ada tali yang tersimpul. Itulah tali pengikat Indonesia.
Kalau tali itu lepas, Indonesia akan meleleh seperti gelali!"
Bagi
pesantren dan NU, Indonesia adalah martabat. Harga diri.
Memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia adalah merebut harga
diri. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
mempertahankan harga diri. Memperjuangkan Cita-cita Proklamasi adalah
memperjuangkan martabat kemanusiaan.
0 Response to "Lagu Patriot Karya KH. Wahab Hasbullah “Ya Lal Wathan”"
Post a Comment